Selasa, 28 April 2009

dialog muhammad dengan iblis

beritahukanlah kepada-ku, siapakah orang yang paling kamu benci ?”.
Iblis menjawab :” Engkau, wahai Muhammad, engkau adalah makhluq Allah yang paling aku benci, dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu”.

Rasulullah SAW :” Siapa lagi yang kamu benci?”.
Iblis :” Anak muda yang taqwa, yang menyerahkan jiwanya kepada Allah SWT”.

Rasulullah :” Lalu siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang Alim dan Wara yang saya tahu, lagi penyabar”.

Rasulullah :” Lalu, siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang yang terus menerus menjaga diri dalam keadaan suci dari kotoran”.



Rasulullah :” Lalu, siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang miskin yang sabar, yang tidak menceritakan kefakirannya kepada orang lain dan tidak mengadukan keluh-kesahnya “.

Rasulullah :” Bagaimana kamu tahu bahwa ia itu penyabar ?”.
Iblis :” Wahai Muhammad, jika ia mengadukan keluh kesahnya kepada makhluq sesamanya selama tiga hari, Tuhan tidak memasukkan dirinya ke dalam golongan orang-orang yang sabar “.

Rasulullah :” Lalu, siapa lagi ?”.
Iblis :” Orang kaya yang bersyukur “.

Rasulullah bertanya :” Bagaimana kamu tahu bahwa ia bersyukur ?”.
Iblis :” Jika aku melihatnya meng-ambil dari dan meletakkannya pada tempat yang halal”.
Rassulullah :”Bagaimana keadaanmu jika umatku mengerjakan shalat ?”.
Iblis :”Aku merasa panas dan gemetar”.

Rasulullah :”Kenapa, wahai terlaknat?”.
Iblis :” Sesungguhnya, jika seorang hamba bersujud kepada Allah sekali sujud saja, maka Allah mengangkat derajatnya satu tingkat”. Rassulullah :”Jika mereka shaum ?”.
Iblis : ” Saya terbelenggu sampai mereka berbuka puasa”.
Rasulullah :” Jika mereka menunaikan haji ?”.
Iblis :” Saya menjadi gila”.

Rasulullah :”Jika mereka membaca Al Qur’an ?’.
Iblis :’ Aku meleleh seperti timah meleleh di atas api”.

Rasulullah :” Jika mereka berzakat ?”.
Iblis :” Seakan-akan orang yang berzakat itu mengambil gergaji / kapak dan memotongku menjadi dua”.

Rasulullah :” Mengapa begitu, wahai Abu Murrah ?”.
Iblis :” Sesungguhnya ada empat manfaat dalam zakat itu. Pertama, Tuhan menurunkan berkah atas hartanya. Kedua, menjadikan orang yang bezakat disenangi makhluq-Nya yang lain. Ketiga, menjadikan zakatnya sebagai penghalang antara dirinya dengan api neraka. Ke-empat, dengan zakat, Tuhan mencegah bencana dan malapetaka agar tidak menimpanya”.
Rasulullah :”Apa pendapatmu tentang Abu Bakar?”.
Iblis :” Wahai Muhammad, pada zaman jahiliyah, dia tidak taat kepadaku, bagaimana mungkin dia akan mentaatiku pada masa Islam”.

Rasulullah :” Apa pendapatmu tentang Umar ?”.
Iblis :” Demi Tuhan, tiada aku ketemu dengannya kecuali aku lari darinya”.

Rasulullah :”Apa pendapatmu tentang Utsman ?”.
Iblis :” Aku malu dengan orang yang para malaikat saja malu kepadanya”.

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 11 Maret 2009

Keluarga Lumpuh

Seorang diri, sang ibu merawat dan menghidupi empat anak dan suaminya yang lumpuh selama puluhan tahun.Bayangkan kalau semua anak Anda menderita lumpuh. Tentu, Anda akan sangat bingung dengan masa depan mereka. Di Purwakarta, ada seorang ibu yang bukan hanya empat anaknya yang lumpuh. Melainkan juga, suami yang menjadi tulang punggung keluarga. Allahu Akbar.
Hal itulah yang kini dialami seorang ibu usia 70 tahun. Namanya Atikah. Di rumahnya yang sederhana, ia dan keluarga lebih banyak berbaring daripada beraktivitas layaknya keluarga besar.Mak Atikah bersyukur bisa menikah dengan seorang suami yang alhamdulillah baik dan rajin. Walau hanya sebagai pencari rumput, Mak Atikah begitu menghargai pekerjaan yang dilakoni suaminya. Bahkan, tidak jarang, ia membantu sang suami ikut mencari rumput.
Beberapa bulan setelah menikah, tepatnya di tahun 1957, Allah mengaruniai Mak Atikah dengan seorang putera. Ia dan suami begitu bahagia. Ia kasih nama sang putera tercinta dengan nama Entang.

Awalnya, Entang tumbuh normal. Biasa-biasa saja layaknya anak-anak lain. Baru terasa beda ketika anak sulung itu berusia 10 tahun.

Waktu itu, Entang sakit panas. Bagi Mak Atikah dan suami, anak sakit panas sudah menjadi hal biasa. Apalagi tinggal di daerah pedesaan yang jauh dari pelayanan medis. Entang pun dibiarkan sakit panas tanpa obat.

Panas yang diderita sang anak ternyata kian hebat. Tiba-tiba, Entang merasakan kalau kakinya tidak bisa digerakkan. Setelah dicoba beberapa kali, kaki Entang memang benar-benar lumpuh.

Musibah ini ternyata tidak berhenti hanya di si sulung. Tiga adik Entang pun punya gejala sakit yang sama dengan sang kakak. Dan semuanya sakit di usia SD atau kira-kira antara 7 sampai 10 tahun. Satu per satu, anak-anak Mak Atikah menderita lumpuh.

Usut punya usut, ternyata anak-anak yang tinggal di Desa Cileunca, Kecamatan Bojong, Purwakarta itu sebagian besar terserang penyakit polio. Tapi, semuanya sudah serba terlambat. Lagi pula, apa yang bisa dilakukan Mak Atikah dengan suami yang hanya seorang pencari rumput.

Sejak itu, Mak Atikah mengurus empat anaknya sekaligus seorang diri. Dengan sarana hidup yang begitu sederhana, bahkan sangat kekurangan, keluarga ini mengarungi hidup puluhan tahun dengan kesibukan anak-anak yang lumpuh.

Ujian Allah buat Mak Atikah ternyata tidak berhenti sampai di situ. Di tahun 90-an, giliran suami Bu Atikah yang mengalami musibah. Saat mencari rumput, Pak Didin terjatuh. Orang-orang sekitar pun menggotong Pak Didin pulang. Dan sejak itu, Pak Didin tidak bisa lagi menggerakkan kaki dan tangannya. Ia cuma bisa berbaring.

Lalu, bagaimana dengan pemasukan keluarga kalau sang suami tidak lagi bisa berkerja. Bu Atikah pun tidak mau diam. Kalau selama ini ia hanya bisa mengurus anak-anak di rumah, sejak itu, ibu yang waktu itu berusia hampir enam puluh tahun pun menggantikan sang suami dengan pekerjaan yang sama. Di usianya yang begitu lanjut, Bu Atikah mengais rezeki dengan mencari rumput.

Sehari-hari, ia berangkat pagi menuju tanah-tanah kosong yang dipenuhi rumput. Ia kumpulkan rumput-rumput itu dengan sebilah arit, kemudian dibawa ke pemesan. Tidak sampai sepuluh ribu rupiah ia kumpulkan per hari dari mencari rumput. Dan itu, ia gunakan untuk mengepulkan asap dapur rumahnya. Hanya sekadar menyambung hidup.

Di bulan Mei tahun ini, sang suami yang hanya bisa berbaring dipanggil Allah untuk selamanya. Kini, tinggal Mak Atikah yang mengurus keempat anaknya yang tidak juga sembuh dari lumpuh.
Allah menguji hambaNya dengan sesuatu yang mungkin sulit untuk dicerna pikiran orang lain. Subhanallah. (www.eramuslim.com)

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 19 Februari 2009

??

pada kali ini saya kan bercerita untu kita pikirkan bersama demi terciptanya masa depan yang benar-benar dapat membawa perubahan..
coba kita sekarang berpikir.....mapa gunanya kita besekolah selama ini...sampai mendapat gelar bermacam-macam...
dari segi kesehatan.pendidikan,keahlian dll...
coba kita berpikir..
apa sebenarnya fungsi kita bersekolah...mungkin banyak yang berpikir..mungkin dengan besekolah kita dapa membaca menulis...berhitung dan lain sebagainya...mungkin ini semua sudah umum fungsi dari bersekolah..lalu bagaimana sikap dan tingkah laku dari kita bersekolah selama ini..apa kah ada perubahan sikap,mentalitas,dan lain sebagainya...
bahakan selama ini kita besekolah ingin bercita-cita ingin menjadi polisi,pegawai negri,kerja di bank,menjadi pejabat..pokoknya banyak sekali cia-cita yang ingin kita capai.iakan...
tapi mengapa selama ini tidak pernah terlintas di pemikiran kita untuk membuka lapangan pekerjaan....mengapa kita tidak mau menjdi pengusaha contohnya....
bahkan problem orang tua selama ini,,,pasti menyuruh anaknya kalo dah selesai sekolah,,kerja disini.di sana..kesana kemari iakan ...tidak pernah orang tua menyuruh anakanya membuka lapangan pekerjaan.dan yang lebih parah lagi pada saat sekarang ini kita tidak pernah mendengar orang tua menyuruh anaknya untuk menjadi petani.....iakan..
nah saat sekarang ini saya mencoba berpikir akan hal itu kalo kita lait kondisi selama ini khususnya di indonesa sangat sedih sekali...apa bila kita semua berpikir seperti uraian dia atas....meskipun ada sebagian mereka yang udah mau mencoba embuat suatu gebrakan untuk menjadipengusaha sukur deh kalo ada yang berpikiran seperti itu...
tapi bagaiman dengan ornag yang berpikiran...?heheheh
blom lagi kita liat remaja n remaji...aduh sangat lua biasa....yaudahalah kalo di ceritakan terus menerus....g akak selesai,,,,
demi masa depan sekarang yang diperlukan ialah...orang yang cerdas dan cermat dalam segala hal.....the succes man looks for the way..the failed man looks for reason

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 30 Januari 2009

Kiat Sukses Membangun Kepercayaan Diri



Banyak ahli menilai, percaya diri merupakan faktor penting yang menimbulkan perbedaan besar antara sukses dan gagal. Karenanya, tidak sedikit pula yang memberikan pandangannya mengenai teknik-teknik membangkitkan rasa percaya diri.


Dalam dimensi yang sangat luas, sukses adalah milik semua orang. Tetapi, tidak semua orang tahu bagaimana cara mendapatkan atau meraih kesuksesan. Kebanyakan orang menilai bahwa kesuksesan adalah milik orang-orang yang ber-IQ tinggi, lulusan sekolah terbaik dan memilih spesialisasi yang paling terkenal.

Penilaian ini memang tidak sepenuhnya salah, tetapi kita juga harus melihat fenomena yang lebih luas, bahwa tidak sedikit orang-orang sukses yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Dengan kata lain, IQ tinggi, lulusan sekolah terbaik dan spesialisasi yang terkenal hanyalah bagian dari penunjang kesuksesan.
Di luar kemampuan itu, ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam memprediksi kesuksesan seseorang; itulah yang kita sebut, antusiasme, hasrat, ketekunan, kerja keras, serta kebulatan tekad seumur hidup yang dimilikinya.

Sebagian pakar menilai bahwa untuk mencapai sukses, kematangan pribadi seseorang sangat dibutuhkan. Sebab kematangan pribadi akan mengantarkan seseorang pada sikap optimis dan kesadaran bahwa apa yang dicita-citakannya akan mudah diraih.

Di sisi lain, meraih kesuksesan jelas bukanlah perkara gampang. Ketika kita berusaha untuk meraih apa yang kita inginkan, tentu banyak tantangan yang harus dihadapi. Ada kalanya seseorang begitu tegar, tetapi tidak sedikit juga yang patah semangat bahkan menyerah karena merasa tidak sanggup menghadapi tantangan yang ada di depannya.

Pada saat semacam inilah, rasa percaya diri sangat penting ditumbuhkan. Banyak ahli menilai bahwa percaya diri merupakan faktor penting yang menimbulkan perbedaan besar antara sukses dan gagal. Karenanya, tidak sedikit pula yang memberikan pandangannya mengenai teknik-teknik membangkitkan rasa percaya diri. Berikut ini adalah beberapa kiat guna membangun percaya diri.

Pertama, berani menerima tanggung jawab. Gerald Kushel, Ed.D., direktur The Institute of Effective Thinking, pernah mengadakan penelitian terhadap sejumlah manajer. Dari penelitian tersebut, Kushel menyimpulkan bahwa ia menemukan sifat terpenting yang dimiliki oleh hampir semua manajer yang memiliki kinerja tinggi.

Dan sifat tersebut adalah rasa tanggung jawab yang mendorong mereka untuk tampil "sempurna" tanpa peduli pada hambatan apapun yang menghadangnya. Sebaliknya, manajer yang berkinerja buruk dan gagal mencapai kapasitas maksimumnya cenderung melimpahkan kesalahannya pada siapa saja.

Kedua, kembangkan nilai positif. Jalan menuju kepercayaan diri akan semakin cepat manakala kita mengembangkan nilai-nilai positif pada diri sendiri. Menurut psikolog Robert Anthony, PhD., salah satu cara untuk mengembangkan nilai-nilai positif adalah dengan menghilangkan ungkapan-ungkapan yang mematikan dan menggantinya dengan ungkapan-ungkapan kreatif. Dia menganjurkan membuat peralihan bahasa yang sederhana tapi efektif dari pernyataan negatif ke pernyataan positif. Misalnya, mengganti kata, "Saya tidak bisa," menjadi, "Saya bisa!"

Ketiga, bacalah potensi diri. Segeralah lacak, gali, dan eksplorasi potensi sukses yang ada pada diri kita. Misalnya dengan bertanya kepada orang-orang terdekat. Termasuk juga mengikuti psikotes dan mendatangi para ahli seperti psikiater, dokter bahkan kiai untuk melacak potensi kita. Karena bisa jadi sangat banyak potensi yang kita miliki tanpa kita sadari, sehingga tidak berhasil kita gali.

Keempat, berani mengambil risiko. Keberanian dalam mengambil risiko ini penting, sebab daripada menyerah pada rasa takut alangkah lebih baik belajar mengambil risiko yang masuk akal. Cobalah menerima tantangan, kendati terasa menakutkan atau menciutkan hati. Cari dukungan sebanyak mungkin.

Dengan melakukan hal ini, kita akan mendapat banyak peluang yang tak ternilai harganya. Namun jangan lupa, ketika mencoba sesuatu kita harus siap dengan hasil yang sesuai atau tidak sesuai dengan keinginan.

Kalau hasilnya tak sesuai dengan keinginan, bisa jadi itulah yang terbaik menurut Allah Azza wa Jalla. Kalau kita sudah mencoba, maka niatnya saja sudah menjadi amal. Orang yang gagal adalah orang yang tak pernah berani mencoba. Bukankah menaiki anak tangga kelima puluh harus diawali dengan tangga pertama?

Kelima, tolaklah saran negatif. Bisa jadi, tidak semua orang di sekitar kita memberikan dorongan, dukungan, dan bersikap positif pada kita. Sebagian dari orang yang ada di sekitar kita mungkin berpikiran negatif. Hal inilah yang tak jarang malah melunturkan rasa percaya diri kita dengan mempertanyakan kemampuan, pengalaman, dan aspirasi-aspirasi kita.

Dengan demikian, mungkin ada baiknya jika kita sedikit mengambil jarak dengan sebijak mungkin bila ada pihak-pihak yang mencoba melunturkan kepercayaan diri kita. Keenam, ikuti saran positif. Rasa percaya diri merupakan sifat "menular". Artinya, jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki cara pandang positif, bersemangat, optimis, dsb, maka kita memiliki kecenderungan untuk meniru sifat tersebut.

Karena itu, carilah lingkungan yang bisa memotivasi kita untuk sukses. Kita harus mulai senang bergaul dengan orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk bangkit. Bergaul dengan orang-orang yang percaya diri akan berbeda dibandingkan bergaul dengan orang-orang yang gagal. Sebab bergaul dengan orang-orang yang percaya diri, Insya Allah semangatnya akan menular kepada diri kita.

Ketujuh, jadikan keresahan sebagai kawan. Banyak peristiwa atau saat-saat dalam kehidupan yang dapat membuat kita mengalami rasa cemas atau gelisah. Akibatnya, kita mengalami krisis percaya diri. Saat itulah kita harus mulai mengingatkan diri sendiri bahwa rasa cemas dan gelisah merupakan kawan. Tingkatkan energi, tajamkan kecerdasan, tinggikan kewaspadaan, dan kembangkan pancaindera. Daripada menyia-nyiakan energi untuk kecemasan yang sia-sia, lebih baik menghadapi tantangan itu secara tegas dan efektif.

Sesudah perhitungan kita matang, selanjutnya kepercayaan diri akan bertambah dengan memperkokoh ibadah dan doa, karena doa dan ibadah dapat mengundang pertolongan Allah. Semakin kokoh ibadah kita, shalat kita, makin kuat doa-doa kita, dan keyakinan kita dengan pertolongan Allah, maka itu bisa meningkatkan percaya diri.

Kita harus benar-benar menyadari bahwa Allah menciptakan kita benar-benar dengan perhitungan dan pertimbangan Yang Mahacermat. Seperti di firmankan Allah SWT dalam Quran surat at-Tiin ayat 4, "La qad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim" (Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya). Wallahu a`lam.n deny riana/mqp

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, 20 Januari 2009

merindukan mati syahid



Salah satu fenomena menonjol yang terlihat pada kebanyakan warga Gaza ialah kecintaan mereka akan mati syahid. Setiap kali seorang anggota keluarga diwawancarai mengenai nasib keluarganya, maka ia otomatis menjawab: ”Abang saya telah syahid ketika kena mortir Yahudi.” Istilah syahid untuk mengungkapkan kematian anggota keluarga tampaknya sudah menjadi kebiasaan di kalangan warga Gaza. Entah ini merupakan keberhasilan Hamas dalam mempersiapkan warga Gaza menghadapi keadaan seperti yang mereka alami dewasa ini atau memang ini sudah menjadi pemahaman mendarah daging bangsa Palestina. Apapun, yang jelas ini merupakan nilai mulia menurut ajaran Islam.



Dalam banyak hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sering menyebut-nyebut tentang orang-orang Syam. Wilayah Syam adalah suatu kawasan yang dewasa ini meliputi empat negeri yakni Palestina, Jordania, Suriah dan Lebanon. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyatakan bahwa pasukan yang terkonsolidasi dengan baik di akhir zaman keberadaannya bakal ada di wilayah Syam.

Seorang Muslim akan memiliki kesiapan apalagi kecintaan untuk mati syahid bilamana ia memahami kewajiban jihad di jalan Allah. Hanya mereka yang memuliakan kewajiban jihad-lah yang dapat memiliki kerinduan untuk mati syahid. Itulah sebabnya dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan betapa pentingnya setiap lelaki Mukmin bercita-cita untuk terlibat dalam perang di jalan Allah. Dan betapa besarnya bahaya bagi seorang Mukimin yang tidak pernah berperang di jalan Allah dalam hidupnya atau sekurangnya memancangkan cita-cita untuk berperang di jalan Allah dalam hidupnya.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

Dari Abu Hurairah ia berkata: bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Barangsiapa mati dan tidak pernah berperang (di jalan Allah) dan tidak pernah bercita-cita untuknya, maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafikan.” (HR Muslim 3533)

Hadits di atas bukan berarti Islam menganjurkan ummatnya untuk bermental haus darah. Tetapi hadits tersebut mengarahkan seorang Muslim untuk menghayati betapa mahalnya ni’mat Iman dan Islam sehingga ia diharapkan siap mengorbankan segalanya demi menegakkan Islam hingga nyawanya, bilamana tuntutannya demikian.



Mengapa kebanyakan warga Gaza memperlihatkan kemantapan jiwa dalam situasi perang yang telah menelan korban hingga lebih 1200 nyawa dan lebih 5000 terluka? Tampaknya hal ini disebabkan karena nilai-nilai jihad di jalan Allah sudah cukup hebat tersosialisasi di antara kebanyakan warganya. Kesadaran bahwa upaya membebaskan diri dan tanah-airnya dari cengkeraman penjajahan Israel telah menyatu dengan panggilan jihad di jalan Allah. Kesadaran inilah yang sepatutnya kita teladani dari bangsa Palestina. Suatu bangsa yang telah mengajarkan dunia betapa mulianya hubbul-jihad wasy-syahadah (cinta jihad dan mati syahid).Saudaraku, inilah di antara pelajaran berharga di balik peristiwa mengenaskan yang terjadi di salah satu jengkal tanah suci, yakni Gaza. Tampaknya kebanyakan warga Gaza telah memahami bahwa kematian hanya akan datang sekali bagi setiap orang. Maka mereka berusaha untuk menjemputnya dengan seni kematian, yaitu mati mulia alias mati syahid. Artinya, bangsa ini telah lama meninggalkan penyakit wahan. Suatu penyakit yang menjangkiti kebanyakan manusia modern dewasa ini. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam:

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 16 Januari 2009

FASE DALAM RAHIM


Setelah sperma Allah ciptakan dari saripati tanah dan air, kemudian satu dari 300 juta sperma berhasil membuahi ovum di Tuba Fallopi. Hasil pembuahan itu berubah menjadi zigot. Zigot adalah makhluk yang ber sel satu. Kemudian sel itu berkembang dengan membelah diri sehingga menjadi ganda menjadi dua, empat, delapan sampai tiga puluh enam. Lalu apa yang terjadi? Dengan sistem yang dahsyat dan unik, makhluk tersebut bergerak dari Tuba Fallopi menuju rahim. Dalam 24 jam harus sudah sampai ke dalam rahim. Kalau tidak, makhluk itu akan mati alias tidak berkembang menjadi manusia. Nah, Berarti, Perjalanan Wisata kita sekarang sudah berada pada Periode Dalam Rahim ibu kita.

Mari kita nikmati wisata ini… Sekarang kita berada dalam rahim ibu kita setelah sekian lama bergulat dengan kehidupan bahan baku, sperma, ovum dan pembuahan yang begitu melelahkan. Kemudian kita berhasil menjadi zigot dan dengan sistem yang sangat unik dan teliti, kita bisa sampai ke dalam rahim ibu kita dengan selamat. Untuk sampai menjadi manusia sempurna seperti kita sekarang, kita harus tinggal dalm perut ibu kita sekitar sembilan bulan lamanya. Kita berkembang dan tumbuh dari satu tahap ke tahap berikutnya. Dari zigot yang menempel ke dinding rahim ibu kita (‘Alaqoh), kemudian berkembang seperti sepotong daging yang digigit (Mudh-ghoh), kemudian menjadi tulang belulang, kemudian tulang-belulang itu dibungkus dengan daging, kemudian perlahan-lahan kita menjadi manusia sempurna yang siap diluncurkan ke fase berikutnya, yakni lahir ke dunia.
Berbagai pertanyaan pun mulai menggelayuti pikiran kita. Misalnya : Kenapa sistem pembuahan begitu rumit? Kenapa zigot memerlukan empat hari perjalanan wisatanya baru mencapai rahim? Kenapa zigot yang berkembang menjadi embryo harus menempel di dinding rahim? Kenapa pertumbuhan kita kemudian seperti daging yang digigit? Kenapa tulang belulang dulu yang terjadi sebelum daging? Bagaimana proses terbentuknya tubuh kita dengan sempurna? Bagaimana pula proses terbentuknya tangan, kaki dan jari-jari kita? Bagaimana proses terciptanya otak kita yang jaringan syarafnya milyaran jumlahnya? Seperti apa pula terbentuknya jaringan pembuluh darah kita yang panjangnya sekitar 40.000 km itu? Mata, telinga, lidah, tenggorokan, paru-paru, jantung, kulit dan anggota tubuh kita yang lain? Kenapa suplai gizi, oksigen, anti virus dan semua kebutuhan kita selama berada dalam perut ibu harus melalui plasenta? Plasenta yang begitu mahal bagi kehidupan wisata kita ketika melewati fase dalam rahim, kenapa tidak berfungsi lagi dan dibuang begitu saja setelah kita lahir? Bagaimana proses peniupan ruh dalam perut ibu kita sehingga kita hidup? Bagaimana sistem pernafasan kita dalam perut ibu kita? Kenapa desain tubuh kita begitu indah dan sempurna? Bagaimana bisa sempurna hanya dalam sembilan bulan saja? Bagaimana bisa berat badan kita ketika siap lahir dan meluncur ke atas bumi ini menjadi milyaran kali berat ovum yang keluar dari dalam indung telur ibu kita yang tidak lebih dari sebesar debu?

Sungguh perjalanan wisata yang sangat menegangkan, jika saja kita sudah punya akal dan perasaan ketika kita berada dalam perut ibu kita. Lima fase pertumbuhan kita, yaitu ‘Alaqoh (menempel di dinding rahim), Mudh-Ghoh (seperti daging yang digigit), Izhom (tulang belulang), Kisaul ‘Izhom Lahma (dibungkus dengan daging), dan Kholqon Akhor (makhluk lain atau sempurna).

Sungguh merupakan suatu kebahagiaan besar bagi kita yang hidup di akhir zaman ini bahwa ilmu pengetahuan moderen berhasil memvisualkan dengan nyata kepada kita lima fase perkembangan hidup kita semasa dalam rahim ibu kita. Mari tatap diri kita fase demi fase selama dalam kandungan ibu kita seperti yang tertera pada lima gambar berikut ini. Lalu tanya diri kita dengan tiga pertanyaan berikut : Siapa saya? Dari apa saya diciptakan? Dan, siapa Pencipta saya?


Bagaimana dengan tiga pertanyaan di atas? Pasti Anda sudah menemukan jawabanya. Yang pasti, Anda akan berdecak kagum atas sistem dan proses penciptaan diri Anda. Sungguh sangat ajaib, tapi nyata. Jika yang terucap adalah : Maha suci Engkau yaa Allah yang telah menciptakan aku dengan bentuk yang sangat sempurna, tak ada celah sedikitpun untuk mengkritisinya, apalagi membantahnya. Jika demikian ucapan yang terlontar dalam hati, pikiran atau lidah Anda, berarti Anda sudah menjawab tiga pertanyaan tersebut dengan baik dan tepat. Jika belum, tanyakan sekali lagi pada diri Anda tiga pertanyaan di atas, lalu tatap lagi ke lima gambar di atas dengan pikiran yang tenang, perasaan yang dalam dan hati yang khusuk dan tawadhu’ (merendah), serta renungkan firman Allah berikut ini :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإِنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ (12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (13) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (14)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan (asal) manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (12) Kemudian Kami jadikan ia (dari tanah itu) satu sperma (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh. (13) Kemudian Kami jadikan Sperma itu ‘Alaqoh (yang menempel pada dinding rahim). Kemudian Kami jadikan ‘Alaqoh itu Mudh-ghoh (Seperti daging yang digigit), dan Mudh-ghoh itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang lain (sempurna). Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik (14).
(Q.S. Al-Mu’minun / 23 : 12 - 14)

Tentang penciptaan manusia ini, Allah mengajak manusia untuk memikirkannya sambil berdialog ilmiyah dengan cerdas dan jujur sebagaimana firman-Nya :

نَحْنُ خَلَقْنَاكُمْ فَلَوْلا تُصَدِّقُونَ (57) أَفَرَأَيْتُمْ مَا تُمْنُونَ (58) أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ (59) نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ (60) عَلَى أَنْ نُبَدِّلَ أَمْثَالَكُمْ وَنُنْشِئَكُمْ فِي مَا لا تَعْلَمُونَ (61) وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ النَّشْأَةَ الأُولَى فَلَوْلا تَذَكَّرُونَ (62)

Kami telah menciptakan kamu, maka mengapa kamu tidak membenarkan (hari berbangkit)? (57) Maka terangkanlah kepadaku tentang sperma yang kamu pancarkan (58) Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya? (59) Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali, tidak dapat dikalahkan,(60) untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (di dunia) dan menciptakan kamu kelak (di Akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui (61) Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama (di dunia), maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran? (62)
(Q.S. Al-Waqi’ah (56) : 57 – 62)

Setelah mengajak manusia berdialog ilmiyah dengan cerdas dan jujur, terkait penciptaan mereka, kemudian Allah menjelaskan bahwa yang mampu berbuat demikian adalah Dzat yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, yang Maha Perkasa, tetapi juga Maha Penyayang dengan segala Kebesaran dan Kekuasaan-Nya, sebagaimana yang dijelaskan dalam firman-Nya :

ذَلِكَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (6) الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ (7) ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ (8) ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ (9) (سورة السجدة)

Yang demikian itu ialah Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, (6)Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan dengan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. (7) Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).(8) Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya ruh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (9) (Q.S. As-sajdah (32) : 6 – 9)

Kemudian, sekali lagi Allah mengetuk pinti hati dan akal fikiran kita untuk membukanya lebar-lebar supaya memahami dan mneyadari betul realitas penciptaan manusia ini agar tidak mudah lupa begitu saja pada Tuhan Pencipta setelah Dia beri mereka kesempatan menghirup udara segar di dunia dengan konsep berpasang-pasangan. Allah menjelaskan dalam firman-Nya:
أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى (37) ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى (38) فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالأُْنْثَى (39)

Bukankah dia dahulu dari satu sperma yang ditumpahkan (ke dalam rahim), (37) Kemudian Sperma itu menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah yang menempel di dinding rahim), lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, (38) Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki laki dan perempuan (39).
(Q.S. Al-Qiyamah ( 75) : 37 – 39)

[+/-] Selengkapnya...